Rabu, 25 Februari 2015

SAHABAT TERBAIK



kami sering bertengkar, tetapi tidak jarang pula kami sering tertawa bersama...
pergi berpiknik menjalin ke akraban, saling mengerti satu sama lain..
mencari solusi bersama ditengah-tengah permasalahan yang ada...
melewati sulit dan senang bersama.. berpegang erat dan saling menatap satu samalain...
memeberikan kepercayaan seluas-luasnya, berjanji untuk meraih kebahagiaan itu bersama.. berlari mengejar mimpi, berusaha untuk yang terbaik..
tak perduli rintangan apa yang menunggu di depan sana.. kami jalani itu...
ibu... kau adalah sahabat terbaikku, kau lah yang selalu ada di saat ku merasa sulit.. ibu.. tataplah kembali mataku dengan tulus kasih sayangmu, dengarlah bahwa aku telah berjanji untuk membahagiakanmu... berjanji untuk menjagamu, dan dihari tua mu, aku pun telah berjanji akanselalu berada disisi mu.. takkan kubiarkan apapun menyakitimu. karena ketika ku kecil dulu, kau tak pernah membiarkan apapun melukaiku..

dihari tua mu nanti ketika muncul putih di rambutmu, aku akan tetap bangga memamerkan dirimu dihadapan kawan-kawan ku.. aku akan berkata kepada mereka bahwa kaulah sahabat terbaik yang ku miliki di dunia ini..

ibu.. kita akan tetap bahagia bersama sampai hari dimana salah satu diantara kita akan pergi menyelesaikan dunia..
Tuhan.. Ku mohon berikan waktu yang panjang untuk cerita bahagia kami...
Tuhan.. kami saling menyayangi, jangan biarkan sedikitpun kesedihan itu kulihat dari raut cantiknya ibuku.. jangan biarkan dunia ini mematahkan senyumnya...
kumohon dengarlah harap ku ini..
terimakasi telah memberikan ibu yang luar biasa ini untukku..
ibu... jadikanlah aku peri kecilmu selalu :)


Sabtu, 07 Februari 2015

CELENGAN RINDU

rindu...
rindu ini tak pernah berakhir...
sekali bertemu, ingin berkali-kali bersama..
sekali memandang, ingin berkali-kali bertatap..

rindu ini ingin rasanya ku pendam selalu..
namun aku tak sanggup menahannya..
maaf kasih jika aku aneh..
tapi rindu, dan cinta ini membuat ku bodoh..
seolah aku tak ingin jauh darimu..

aku bukan siapa-siapa..
tapi dihati ini ada namamu..
maaf jika kekonyolan ini mengganggumu..
tapi aku ingin menghancurkan celengan rindu ku ini..
agar kau tau aku ingin selalu bersamamu..


maaf freak HAHHA :D

Selasa, 27 Januari 2015

SERPIHAN SURAT UNTUK AYAH

Pernah ku merasa sangat nyaman berada dalam pelukmu, erat peluk itu penuh dengan cintamu untukku. Indah saat aku dapat merasakan hangatnya peluk dan kasihmu itu..
Aku bahagia karena sebelumnya aku tak pernah merasakan hangatnya pelukmu ayah.. namun sayang, kini hangat pelukmu tak dapat kurasakan lagi..
Derai air mata ini pun mengalir, kemudian ingatan tentang mu hadir dalam fikirku. Aku sangat menyesali kesempatan yang begitu ku abaikan.. kenapa begitu cepat engkau pergi meninggalkan kami? Begitu singkat peluk terakhir itu. begitu singkat waktu yang diberikan Tuhan untuk mu memanjakkan diri ini?
Rasanya aku baru beberapa menit saja merasakan bahagianya memiliki ayah sepertimu, meski aku hanya meminjammu dari ayahnya.. namun aku begitu menyayangimu.. dan kasihmu pun kurasakan itu..
Ayah... beribu harapan yang kau tangguhkan kepada ku, akan ku gapai demi membahagiakan dirimu di alam sana..
Ayah.. kau adalah sosok panutan di dalam keluarga ini yang begitu hebat dan bijaksana..
Ayah.. terimakasi, kau telah bersama kami beberapa tahun ini.. mengobati semua luka yang aku miliki di masa lalu..
Ayah... aku begitu merindukkanmu, aku ingin bertemu dengan mu walau hanya semenit saja..
Aku ingin sekali merasakan peluk hangat yang penuh kasih sayang dari seorang ayah sepertimu..
Ayah, aku tak kuasa melihat ibu selalu menangisi kepergianmu.. seolah ibu pun begitu menyayangi dan merindukkan mu. Ia tak pernah sedikitpun melupakan bayangmu..

Ayah.. dapatkah aku bertemu denganmu dalam dimensi yang lain? Dapatkah keluarga kecil ini kembali bersama dan menjalin erat keharmonisan?
Ayah.. tahu kah engkau begitu banyak hal yang ku sesali setelah kepergianmu..
Sekarang.. aku mencoba untuk memperbaiki segalanya, aku ingin mengubah mewujudkan mimpi-mimpi ku untuk mu yang pernah menaruh harap kepada ku..
Terlambat kah aku melakukan ini semua? Meski begitu, aku akan tetap berusaha mengubah segalanya menjadi lebih baik.
Ayah.. tetap lah menaruh harap kepada ku di alam sana, tetaplah tersenyum untuk kami semua..

Dari anakmu yang begitu merindu,

Egidya Mahardini

Sabtu, 10 Januari 2015

DARI KEJAUHAN INI

Dari kejauhan ini aku melihatmu..
Dari kejauhan ini aku melihat senyum indah itu..
Dari kejauhan ini kulihat ada dia dihadapmu..
Dari kejauhan ini kulihat kalian bersama saling membalas senyum satu sama lain..

Kini kisah kita sangatlah berbeda..
Kau disana tersenyum kepadanya..
Lalu aku disini hanya mampu tersenyum di belakangmu..

Meski kisah ini sudah tak sama..
Namun aku masih tetap merindu..
Merindukkan kisah itu, kisah yang pernah kita lalu bersama..
Kita lalui bersama sebelum engkau bersamanya..

Kisah ini tak semanis dongeng..
Hingga membuatku menjadi gadis cengeng..
Mungkinkah memorymu masih cukup kuat untuk mengingat kebersamaan kita dulu.
Kenangan itu..
Ataukah sudah tak ada lagi sedikitpun untukku..

Mungkinkaaah.. mungkinnkaaahh.. akan tetap seperti ini..
Aku hanya mampu melihatmu dari kejauhan ini, melihatmu tersenyum untuknya..
Mungkinkaaahhh... kita akan bersama mengulang semua masa indah itu...
Massa-massa indah yang pernah kita lalui bersama..

Sepertinya aku sudah tak sanggup...
Aku tak cukup hebat untuk melihatmu bersamanya..
Aku ingin menyerah..
Dan sekali lagi ku katakkan “aku menyerah...”

Rabu, 07 Januari 2015

SEBATAS KEMAMPUAN


Ketika aku memandang keseluruhan di sekitar sini, aku merasa orang-orang itu hanya berlalu lalang tanpa memperdulikan orang lain yang berada disekitarnya..
Mengapa manusia tidak seramah semut, yang selalu saling bertegur sapa setiap bertemu dengan sesamanya.. mereka kecil, tapi sepertinya mereka saling menghormati satu sama lain.. mereka juga bergerombol sama seperti manusia yang hidup berkelompok.. tapi sepertinya mereka tidak pernah memandang berbeda satu sama lain..

Terkadang perbedaan ini begitu sulit di mengerti..
Aku berkaca pada genangan air hujan yang ada di hadapan ku ini..
Keruh.. tidak terlalu jernih, jadi hanya bayangan ku saja yang terlihat..
Aku berkata pada diri ku sendiri “siapa aku? Mengapa aku ada?

Aku bagaikan sampah masyarakat yang tidak ada gunanya lagi...
Aku sudah tidak berdaya melawan kerasnya hidup ini..
Aku berada di tengah-tengah mereka yang penuh dengan kebahagiaan..

Mereka berlalu lalang kesana kemari menggunakan kedua kakinya..
Tapi tidak dengan aku yang hanya bisa hidup mengandalkan kursi roda tua ini..
Aku terlahir tanpa kedua kaki, dunia ini seperti tidak adil untukku..
Karena kaki ku hanya bertumpu pada roda-roda ini..
Namun Lihatlah Mereka, mereka mampu berjalan kemana pun yang diinginkan.. tapi tidak dengan aku.
Bahkan mereka mampu berlari menggunakan kedua kakinya.. tapi tidak dengan aku.
Aku manusia sama seperti mereka, tapi mengapa aku tidak di beri kesempatan untuk berjalan menggunakan kedua kaki ku sendiri..

Aku bosan hanya berduduk diam diatas kursi roda tua seperti ini..
Jalan yang ingin ku tempuh pun sangatlah terbatas.
Aku ingin seperti mereka, berlari... bermain... bahkan aku ingin sekali menaklukan puncak-puncak gunung di daratan ini.. tapi aku tidak berdaya.!! Semua yang ku lakukan sangat terbatas !

Tidak jarang mereka di luar sana mengucilkan keterbatasan ku...
Aku tidak marah dengan tuhan, karena aku telah terlahir seperti ini..
Tapi aku kecewa, mengapa tuhan menciptakan mereka yang mengucilkan aku !
Apa dosa ku kepada mereka?!!

Tuhan.. aku sudah tak sanggup melawan dunia ini..
Aku sudah tidak sanggup menghadapi mereka yang begitu mengucilkan aku...
Aku begiitu lelah dengan semua yang ku alami ini...

Tuhan... selesaikanlah diri ini, bawa aku pulang bersamamu..
Dan ku mohon, kembalikanlah kedua kaki ku yang KAU pinjam itu..
Agar disana aku dapat berjalan dengan kedua kaki ku.. dan menikmati ke abadian di sana..

Selasa, 06 Januari 2015

BERSAMAMU




Ketika kamu datang, ada rasa yang tidak biasa ku rasakan..
Rasa ini sangat berbeda ketika aku bersama dengan orang lain selain kamu..
Senangkah ? Tidak... karena aku terbiasa jauh dengan mu, lalu bertemu sekedar melepas rindu..
Bahagiakah aku bertemu dengan mu? Tidak... karena sekarang kamu datang bukan untukku..
Lalu Apa yang ku rasa ini? Entahlah... hanya saja aku merasa getaran ini berbeda dari biasanya..

Apa rasa ini akan mengusik sepi ku? Tidak...
Hanya saja, aku merasa terusik.. karena kamu datang dengan segala hal yang berbeda..
Banyak hal tentang kamu yang telah kulewatkan.. aku tidak ingin kamu datang bersamanya..
Tapi, hal itu telah terjadi.. kamu datang bersama dengan kebahagiaann mu itu...

Heran... itu lah yang selalu ada di dalam benak ku, ketika kamu datang..
Karena kamu selalu datang, disaat yang tepat untukku.. tapi mungkin, tidak untukmu...
Tahu kenapa....?
Kadang... aku sering memikirkan “kita” di massa itu, seolah terjebak dalam nostalgia..
Bayangmu selalu hadir ketika aku merasa sepi..

aku sempat menyalahkan waktu dan keadaan yang ku lalui ini..
Perpisahan itu,.. juga pertemuan itu... sempat ku sesali semuanya...
Namun tak lama setelah aku memikirkanmu, kamu datang... datang dengan segala hal yang tak ku sangka..
Hanya raut senyum itu yang kulihat tak pernah berubah dari wajah mu sejak dulu...


Lalu tahukah kamu?
Senyum, dan kelakuan lucu juga kekonyolan mu masih terekam jelas didalam memory ku hingga saat ini... mungkin itulah hal yang tersisa untukku dari kamu..
Sekarang kita bertemu lagi, di waktu yang sudah sangat berbeda dari massa-massa itu..
Mungkin aku senang, tapi tidak terlalu senang...
Mungkin aku masih merindu, tapi sepertinya sudah tidak penting lagi kerinduan ini..

Sekarang kita berdua di tempat yang sama dan di waktu sama pula...
Berhadapan satu sama lain... pertemuan ini sederhana, tapi begitu bermakna..
Tawa dan canda yang pernah ku miliki dulu, masih dapat kurasakan.. tapi tidak seutuhnya..
Mungkin ini belum saatnya untukku...
aku percaya.. jika memang kamu untukku, maka suatu saat kamu akan datang dan bersama ku seutuhnya..
senyum, canda dan tawa itu akan kembali menjadi milikku...
tapi jika itu semua hanya angan-angan saja, tidak masalah untukku...
melihatmu bahagia dengan siapapun orang lain yang ada di hadapanmu.. itu saja sudah cukup membuatku tersenyum..

dulu...
bersamamu aku merasa aman, karena kamu tak pernah membiarkan ku terluka oleh orang lain..
dulu..
di pelukmu aku begitu nyaman.. seolah aku ingin waktu pertemuan itu di perlambat satu jam saja...
itu dulu... hanya massa lalu...

banyak hal yang telah ku lalui tanpamu, aku ingin sekali menceritakan segala hal yang telah ku lalui tanpamu...
tapi tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata... karena terlalu banyak hal yang tak kita lalui bersama...
aku berharap suatu saat, kita dapat bersama.. berhadapan saling bercerita satu sama lain..
menceritakan banyak hal yang tak pernah kita duga sebelumnya...
sepertinya akan menyenangkan..
tapi aku kembali berfikir, bahwa kadang tempat yang indah pun tak seindah kelihatannya..
biarkanlah ini tetap berjalan seperti apa adanya waktu...

Dan kini kamu hanya sesosok bayangan yang tertinggal bersama dengan kenanganku di masa lalu...


Senin, 05 Januari 2015

MEMUPUK MIMPI DI DALAM TUMPUKKAN SAMPAH


MEMUPUK MIMPI DI DALAM TUMPUKKAN SAMPAH

Semangat yang ku punya ini, terasa semakin rapuh..
Semangat yang dulu ku tebarkan karena mimpi dan angan yang ku yakin akan tercapai ini, semakin lama semakin membuat ku merasa sulit untuk menggapainya..
Hidup ku hanya bergantung pada hasil dari pengumpulan sampah yang nantinya akan ku jual kembali kepada pengepul..
Apalah arti penghasilan seorang pemulung seperti aku?
Hidup serba terbatas dengan biaya,
Makan nasi bungkus dengan lauk ayam goreng saja itu sudah lebih dari cukup, apalagi jika aku bisa menikmati segelas susu setiap pagi..

Pakaian yang ku kenakan ini adalah hasil dari pemberian tetangga dikampung sebelah, untung lah akhirnya aku memiliki baju yang layak pakai seperti ini, meskipun hanya satu buah saja.. tapi aku tetap bersyukur..

Tuhan... apa kau marah kepada ku? Kepada kami yang hidup dari hasil tumpukkan sampah ini.. kenapa hidup kami sangatlah berbeda dengan orang lain di luar sana? Apa yang salah dengan keadaan ini. Mengapa mereka seperti jijik berada di dekat kami para pemulung sampah..

Apa karena badan kami yang bau? Pakaian kami yang lusuh? Atau badan kami yang kotor ini?
Jika kami dapat memilih, untuk hidup seperti apa? Kami tidak ingin hidup seperti ini.. kami ingin sekali seperti orang lain. Makan di restoran.. berkumpul dengan keluarga besar di suatu tempat.. berjalan-jalan setiap sore menjelang malam.. mengenakan pakaian yang wangi dan bersih juga rapi.. kami juga sangat ingin hidup seperti itu.. setidaknya meskipun kami sangat sederhana, kami masih bisa berkumpul dengan keluargaJ

Ini lah hidup kami... penuh dengan sampah.. bau, kotor... kami sudah terbiasa, namun bagaimana mereka yang berada di sekitar kami? Apakah mereka terbiasa dengan ini? Apa mereka terbiasa berada didekat kami?
Aku ini juga manusia, sama seperti mereka... tapi mengapa mereka menjauhi kami.. karena kami tidak bersih dan wangi seperti mereka...?
Dari sampah ini, aku bisa bersekolah..
Dari sampah ini, aku bisa makan enak meski tidak setiap hari...
Dari sampah ini kami hidup.. dari sampah ini makan... apakah kalian dapat menerima itu?
Kami terbiasa hidup berdampingan dengan sampah.. terimakasih atas sampah yang telah kalian buang. Adalah bagian dari rezeki kami... J